Asal Usul Maulid Nabi Muhammad SAW, Sejarah Lengkap dan Maknanya. Maulid, berasal dari bahasa Arab yang berarti kelahiran, dalam konteks Islam merujuk pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tanggal yang umum diperingati adalah 12 Rabiul Awal, meskipun tidak ada konsensus mutlak; beberapa menyebut tanggal lain seperti 8, 10, atau bahkan bukan di bulan Rabiul Awal sama sekali.
Sumber seperti Prof. Dr. Muh Rawwas Qol’ahji mencatat bahwa Nabi SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (sekitar 570 M). Kendati demikian, peringatan kelahiran beliau tidak pernah dilakukan semasa beliau hidup atau oleh para sahabat.

Teori Awal Munculnya Tradisi Maulid
1. Dinasti Abbasiyah — Al-Khayzuran (abad ke‑8 M / 170 H)
Salah satu catatan tertua menyebut bahwa Al‑Khayzuran, ibu dari Harun al-Rasyid (sekitar 786 M / 170 H), mendorong masyarakat untuk memperingati Maulid Nabi. Ia memerintahkan umat di Madinah merayakannya di Masjid Nabawi, sementara di Makkah dilakukan di rumah-rumah mereka.
Versi lain bahkan menyebut bahwa perayaan seperti ini sudah terjadi sejak tahun kedua Hijriah, sebagaimana disebut dalam kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa.
2. Dinasti Fatimiyah di Mesir (abad ke‑10–12 M / abad ke‑4–6 H)
Versi historis lainnya menyatakan bahwa perayaan Maulid Nabi secara formal dimulai oleh Dinasti Fatimiyah (Syiah Ismailiyah) yang berkuasa di Mesir sekitar abad ke‑4 hingga ke‑6 H (abad ke‑10 sampai ke‑12 M).
Tujuan mereka dalam memperingati Maulid antara lain untuk meneguhkan identitas keagamaan dan legitimasi dinasti sebagai keturunan Nabi, serta memperkuat semangat keagamaan masyarakat.
3. Sultan Muzaffar al‑Din Gökböri, Gubernur di Irbil (abad ke‑12–13 H)
Seorang gubernur di Irak bernama Muzaffar al‑Din Gökböri (pemerintahannya antara abad ke‑12–13 H) juga dikemukakan sebagai tokoh yang memperkenalkan Maulid publik pertama kali dari kalangan Sunni. Ia menyelenggarakan perayaan besar dengan ceramah, syair, jamuan, dan pemberian sedekah.
4. Sultan Salahuddin al‑Ayyubi (abad ke‑12 H)
Salahuddin al‑Ayyubi, pemimpin Muslim yang berhasil membebaskan Yerusalem, diyakini menggunakan perayaan Maulid sebagai sarana untuk membangkitkan kembali semangat spiritual dan persatuan umat menjelang Perang Salib. Ia bahkan mengadakan sayembara menulis pujian untuk Nabi, yang dimenangkan oleh Syaikh Ja’far al‑Barzanji, penulis kitab Barzanji yang kemudian menjadi tradisi pembacaan Maulid di berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara.
5. Abu al‑Abbas al‑Azafi di Maghreb
Tokoh lain, Abu al‑Abbas al‑Azafi, seorang ulama dan hakim dari Ceuta (Maroko modern), dikenal memperkenalkan dan menyebarkan tradisi Maulid di kawasan Maghreb pada abad ke‑12–13 Masehi. Karyanya Kitab ad‑durr al‑munazzam fi’l‑mawlid al‑nabi al‑muʿaẓẓam menjadi fondasi literatur Maulid di wilayah tersebut.
Baca juga: Sejarah Kota Jombang yang Kaya dengan Tradisi
Tradisi Awal dan Evolusi Perayaan Maulid
Menurut sumber-sumber, beberapa kebiasaan dalam perayaan Maulid telah mulai terbentuk sejak masa Tabi‘un, yakni pembacaan syair dan pujian untuk Nabi di depan umum. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi event publik besar yang melibatkan pemerintah, ulama, dan masyarakat umum dengan ceramah, pembacaan Al-Qur’an, pemberian sedekah, bahkan pawai dan jamuan.
Kontroversi: Bid’ah atau Tradisi?
Perayaan Maulid Nabi tidak lepas dari kontroversi. Beberapa kalangan, terutama dari tradisi Salafi/Wahabi, menilai Maulid sebagai bid’ah—inovasi dalam agama yang tidak pernah dilakukan Nabi atau para sahabat—dan karenanya tidak dibenarkan.
Namun, pandangan mayoritas ulama Sunni kontemporer menyebut Maulid sebagai bid’ah hasanah (inovasi baik) selama perayaannya dilandasi niat yang benar—yakni memperingati kelahiran Nabi, meneladani akhlak beliau, dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Penyebaran dan Tradisi Maulid di Nusantara
Peran Wali Songo dan Grebeg Maulud / Sekaten
Di Indonesia, tradisi Maulid semakin meluas lewat dakwah Wali Songo sekitar abad ke‑15–16 M. Mereka menggunakan kebudayaan lokal seperti Sekaten (dari istilah Syahadatain) untuk menarik masyarakat kepada Islam. Tradisi ini berupa tabuhan gamelan di keraton, menceritakan kisah Nabi, serta menyelenggarakan festival budaya-religius.
Bacaan Syiir dan Pengajian—Barzanji dan Diba’
Pembacaan Kitab Barzanji dan Diba’, berisi syair kehidupan dan pujian kepada Nabi, menjadi menu wajib dalam tradisi Maulid di Indonesia—sebuah warisan spiritual dari era Salahuddin dan Barzanji.
Grebeg Mulud, Maudu Lompoa, dan Tradisi Lokal lain
- Grebeg Maulud / Mulud di Jawa (Yogya, Solo) dikenal dengan kirab budaya dan upacara nasi gunungan.
- Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan: rakyat mengarak replika perahu Pinisi yang dihias, melambangkan penyebaran Islam lewat perdagangan, bahkan kadang lebih meriah dari Idul Fitri.
- Tradisi lain seperti Nasi Berkat, Endog-endogan, ziarah ulama, doa bersama, festival budaya Islam, sedekah, donor darah, dan kegiatan sosial pendidikan juga banyak ditemui di Indonesia.
Baca juga: Rawon Kuliner Legendaris dari Jawa Timur
Kesimpulan dan Relevansinya Saat Ini
- Asal Usul Maulid Nabi Muhammad SAW: Tidak muncul di masa Nabi atau sahabat, tetapi berkembang secara historis melalui beberapa jalur—Abbasiyah (Al‑Khayzuran), Fatimiyah, Gökböri, Salahuddin, dan al‑Azafi.
- Tujuan Perayaan: Dari awal, Maulid bukan hanya momen peringatan, tetapi juga sarana spiritual-politik untuk menghidupkan ajaran Nabi, memperkuat semangat kaum Muslim, dan menyatukan umat.
- Kontroversi: Diperdebatkan terkait sinkronitas praktik agama. Tetap dipahami secara luas sebagai bentuk cinta kepada Nabi, selama dibarengi tujuan yang baik.
- Ekspresi Kekinian Nusantara: Tradisi Maulid sangat kaya—dari pengajian dan budaya hingga aksi sosial. Ini memperkaya khazanah Islam dan budaya di Indonesia.
- Relevansi modern:
- Edukasi keagamaan: momen untuk memperdalam pemahaman sirah dan akhlak Nabi, melalui ceramah dan media digital.
- Kebersamaan sosial: Maulid menjadi ajang persatuan, solidaritas, dan kegiatan sosial produktif.
- Pelestarian budaya: Tradisi lokal seperti Sekaten, Endog-endogan, Maudu Lompoa mempersatukan nilai Islam dan lokalitas.
- Cinta spiritual: Menunjukkan bagaimana umat menggumuli kecintaan kepada Nabi SAW lewat tradisi positif yang berakar kuat.
Semoga artikel ini membantu memahami sejarah, makna, dan keindahan tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW, dari asal hingga relevansi modern.

Lebih Banyak Berita
Misteri Candi Borobudur: Simbol Kejayaan Kuno Indonesia
Sejarah Taman Sari Yogyakarta: Taman Air yang Penuh Kisah
Keajaiban Dunia: Sejarah Candi Borobudur yang Menakjubkan