Masjid‑Masjid Bersejarah di Kabupaten Tuban yang Wajib Dikunjungi Wisatawan Religi. Kabupaten Tuban, yang kerap disebut “Bumi Wali”, memiliki banyak masjid bersejarah yang bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai saksi perjalanan panjang dakwah Islam di Pulau Jawa.
Melalui tulisan ini, kita akan mengulas secara detail beberapa masjid yang paling layak dikunjungi oleh wisatawan religi — lengkap dengan sejarah, arsitektur, kondisi terkini, dan tips kunjungan.
1. Masjid Agung Tuban
Sejarah & latar belakang
Masjid Agung Tuban berada di sisi barat Alun‑Alun Kota Tuban. Menurut berbagai sumber, masjid ini diperkirakan berdiri pada abad ke‑15, pada masa pemerintahan Bupati Tuban ke‑7, Adipati Raden Ario Tedjo (juga dikenal dengan nama Syekh Abdurrahman). Masjid ini kemudian mengalami beberapa pemugaran, salah satu yang tercatat pada tahun 1894, dan pemugaran besar terakhir sekitar 2004.
Arsitektur masjid ini sangat khas — menggabungkan unsur Jawa klasik dengan corak Timur Tengah dan Irak. Banyak elemen lengkungan yang menghubungkan tiang‑tiang penyangga, disebut terinspirasi dari pola ruang dalam Mesjid Cordoba (Spanyol). Selain itu, terdapat ornamen mimbar kayu ukiran Jawa, tangga kuningan di sayap mihrab, dan kubah serta menara berwarna mencolok yang menimbulkan kesan “istana 1.001 malam”.
Keunggulan sebagai destinasi wisata religi
- Letaknya strategis di pusat kota Tuban, sehingga mudah dijangkau dari berbagai arah.
- Masjid ini bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga tempat peziarahan—karena dekat dengan makam senuris dakwah seperti Sunan Bonang.
- Di sekitar masjid berdiri juga museum (Museum Kembang Putih) yang menyimpan artefak‑kitab kuno, keramik Cina, dan pusaka lainnya.
Kondisi terkini (2024‑2025)
Saat ini Masjid Agung Tuban tetap dalam kondisi dijaga dengan baik, menjadi ikon religi dan wisata di Tuban. Foto‑liputan tahun 2025 menyebut keunikannya dan keramaian pengunjungnya.
Tips kunjungan
- Datang pagi atau sore agar mendapatkan cahaya bagus dan suasana lebih tenang.
- Bawa pakaian sopan — sebagai masjid yang aktif digunakan untuk ibadah tetap diperlukan kehormatan.
- Setelah shalat atau ziarah, sempatkan kunjungi museum di sebelah masjid agar menambah pengalaman historis.
- Karena pusat kota, parkir bisa padat. Datang agak lebih awal disarankan jika membawa mobil.
2. Masjid Syekh Asyari Sunan Bejagung
Sejarah & latar belakang
Masjid Syekh Asyari Sunan Bejagung terletak di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Masjid ini terkait langsung dengan figur ulama besar, Sunan Bejagung (nama aslinya Sayyid Abdullah Asy’ari) yang dianggap sebagai salah satu penyebar Islam awal di kawasan Pantura Jawa. Menurut sumber, masjid ini berdiri pada era akhir Kerajaan Majapahit (sekitar abad ke‑15) dan awal penggunaan masih sangat sederhana (“beralaskan pasir pantai dan beratapkan sirap”).
Keunggulan sebagai destinasi wisata religi
- Memiliki nuansa yang lebih “terpencil” dan tenang dibanding masjid di pusat kota, cocok bagi mereka yang mencari refleksi religius lebih mendalam.
- Letaknya satu kompleks dengan makam Sunan Bejagung, yang menambah nilai ziarah sekaligus ibadah.
- Tradisi dan situs‑situs pendukung: sumur giling yang airnya dipercaya punya keberkahan, gapura‑gapura tua, dan lingkungan pedesaan yang asri.
Kondisi terkini
Masjid ini tetap digunakan aktif oleh masyarakat dan peziarah. Kegiatan rutin seperti pengajian, majelis sholawat, hingga haul Sunan Bejagung dilaksanakan setiap tahunnya. Akses jalan ke wilayah desa sudah semakin baik, meski tetap perlu kendaraan yang layak.
Tips kunjungan
- Pastikan kendaraan dalam kondisi bagus karena akses masuk pedesaan.
- Karena suasana agak tenang dan tidak “komersial”, bawa bekal air dan camilan sendiri agar nyaman.
- Hormati lingkungan pedesaan: pakaian sopan, suara pelan, dan jangan tinggalkan sampah.
- Kombinasikan kunjungan dengan makam Sunan Bejagung — begitu selesai salat dan ziarah, bisa santai di ruang terbuka sekitar lokasi.

3. Masjid Al Muhdor
Sejarah & latar belakang
Masjid Al Muhdor berada di Jalan Pemuda, Kelurahan Sidomulyo, Kabupaten Tuban. Sumber menyebut bahwa masjid ini dibangun pada awal tahun 1900‑an, sebagai langgar wakaf dari masyarakat setempat, dan kemudian berkembang menjadi masjid yang memiliki nilai historis karena dikaitkan dengan ulama dari Hadramaut, yakni Habib Abdul Qadir Alwi Assegaf. Masjid ini juga terkenal dengan tradisi “bubur muhdor” yang dibagikan setiap Ramadan sebagai bentuk kepedulian sosial.
Keunggulan sebagai destinasi wisata religi
- Menawarkan pengalaman yang berbeda: bukan hanya arsitektur besar atau makam wali terkenal, tetapi suasana masjid klasik dan kuat dengan warisan lokal.
- Cocok bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa keagamaan yang dekat dengan keseharian masyarakat Tuban — aktifnya tradisi sosial seperti pembagian takjil bubur membuat kunjungan punya sisi kemanusiaan.
- Hampir bebas biaya besar untuk pengunjung — lebih ke masuk dan ikut suasana daerah.
Kondisi terkini
Utusan pemerintah Kabupaten Tuban menyebut Masjid Al Muhdor sebagai “salah satu masjid tertua di Tuban” yang masih berfungsi. Kendati demikian, fasilitas mungkin lebih sederhana dibanding masjid besar kota.
Tips kunjungan
- Pasarkan harapan bahwa ini bukan “masjid wah” dengan fasilitas mewah, melainkan masjid bersejarah yang autentik.
- Datang di saat kegiatan sosial seperti pembagian bubur Ramadan agar merasakan suasana lokal yang hangat.
- Gunakan kendaraan yang cocok jika membawa rombongan — area parkir mungkin terbatas.
Makna dan Nilai Wisata Religi
Mengunjungi masjid‑masjid bersejarah di Tuban seperti di atas bukan sekadar “melihat bangunan tua”, melainkan merasakan jejak dakwah, percampuran budaya, dan keberkahan spiritual yang hidup dalam komunitas. Beberapa hal penting untuk diambil:
- Jejak sejarah: Seperti Masjid Agung Tuban yang dibangun di masa Majapahit, masjid‑masjid ini terhubung dengan proses besar penyebaran Islam di Jawa.
- Arsitektur dan budaya: Perpaduan gaya Jawa, Timur Tengah, dan arsitektur lain menunjukkan adaptasi lokal dalam menyambut Islam.
- Religi dan sosial: Banyak masjid berfungsi ganda—tempat ibadah, pusat dakwah, pusat sosial seperti pembagian takjil.
- Ekonomi lokal: Wisata religi turut mendorong ekonomi lokal — warung, parkir, oleh‑oleh, jasa pemandu ketika rombongan peziarah datang.
- Hemat & mudah diakses: Kebanyakan masjid mengizinkan pengunjung tanpa biaya tiket besar — cocok untuk wisatawan dengan anggaran terbatas.
Panduan Kunjungan Wisata Religi ke Tuban
Untuk mendapatkan pengalaman maksimal, berikut beberapa langkah praktis:
- Rencanakan rute
- Hari pertama: Mulai dari Masjid Agung Tuban (pusat kota) — salat, ziarah, museum.
- Hari kedua: Pergi ke Masjid Syekh Asyari Sunan Bejagung (desa/ziarah wali) atau Masjid Al Muhdor (masjid klasik kota).
- Gabungkan dengan objek wisata lain jika punya waktu — pantai, alam, kuliner lokal.
- Waktu kunjungan
- Pagi atau sore hari: cuaca lebih bersahabat, pencahayaan bagus untuk foto.
- Hari biasa (tidak libur nasional) agar suasana lebih tenang.
- Cek kalender daerah untuk kegiatan khusus (haul, pengajian besar) jika ingin ikut.
- Perlengkapan dan sikap
- Pakaian sopan dan sesuai norma masjid.
- Alas kaki nyaman, khususnya jika ke daerah pedesaan atau ziarah makam wali.
- Bawa air minum, camilan ringan — fasilitas mungkin terbatas di lokasi terpencil.
- Hormati lingkungan: diam di area ibadah, jangan mengganggu peziarah.
- Kamera untuk dokumentasi, tetapi berhati-hati dengan aturan foto di area makam atau ruang ibadah.
- Anggaran & akomodasi
- Banyak masjid tidak mengenakan tiket khusus — hanya ongkos transportasi, parkir atau penginapan.
- Pilih penginapan di kota Tuban jika ingin akses mudah ke pusat kota dan objek.
- Nikmati kuliner lokal di sekitar kota — mendukung ekonomi lokal.
Penutup
Masjid‑masjid seperti Masjid Agung Tuban, Masjid Syekh Asyari Sunan Bejagung, dan Masjid Al Muhdor adalah contoh nyata bahwa Tuban bukan hanya “kota wisata pantai” atau “kota dakwah” belaka, melainkan memiliki heritage keagamaan yang solid dan layak dijelajahi. Bagi wisatawan religi, kunjungan ke masjid‑bersejarah ini adalah perjalanan rohani, sejarah, dan budaya sekaligus.
Dengan persiapan yang baik dan sikap yang tepat — Anda akan mendapatkan pengalaman yang bermakna, mencerahkan, dan pastinya membekas.

Lebih Banyak Berita
Jelajah Eksotis Wisata Baru IKN Nusantara
Pesona Raja Ampat, Destinasi Impian Dunia
Labuan Bajo 2026: Panduan Wisata, Tren, dan Pembaruan Terbaru