17 Oktober 2026

Putritransport

Sahabat Setia Wisata Anda

Candi Peninggalan Hindu Budha yang Wajib Dikunjungi

Candi Peninggalan Hindu Budha yang Wajib Dikunjungi

Candi Peninggalan Hindu Budha yang Wajib Dikunjungi

Candi Peninggalan Hindu Budha yang Wajib Dikunjungi, Warisan Agung Nusantara. Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan warisan budaya dan sejarah, salah satunya adalah peninggalan candi-candi dari era kejayaan Hindu-Buddha.

Candi bukan sekadar bangunan batu purba, tetapi juga simbol peradaban tinggi yang pernah berkembang di Nusantara. Dari relief yang terpahat indah hingga arsitektur megah yang mengagumkan, candi-candi ini merekam jejak spiritual, sosial, dan politik masa lalu.

Kita akan membahas secara lengkap candi-candi peninggalan Hindu-Buddha yang wajib dikunjungi, lengkap dengan sejarah, daya tarik, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Baca juga: Destinasi Wisata Sejarah Terbaik di Yogyakarta 2025


1. Candi Borobudur – Simbol Kemegahan Budha di Asia Tenggara

Borobudur adalah candi Budha terbesar di dunia yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra, Borobudur merupakan mahakarya arsitektur yang mengagumkan. Tersusun dari lebih dari dua juta balok andesit, candi ini memiliki sembilan tingkat yang merepresentasikan jalan menuju pencerahan dalam ajaran Budha Mahayana.

Relief Borobudur menggambarkan kisah kehidupan Buddha, hukum karma, serta perjalanan spiritual umat manusia. Borobudur juga digunakan sebagai tempat ibadah umat Budha, terutama saat Waisak. UNESCO telah menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia sejak 1991.

Daya Tarik: Sunrise di atas stupa-stupa utama Borobudur adalah pengalaman spiritual yang tidak terlupakan.


2. Candi Prambanan – Kemegahan Trimurti di Tanah Jawa

Candi Prambanan terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi utama, yaitu Candi Shiva, dikelilingi oleh candi Brahma dan Wisnu, mencerminkan konsep Trimurti (tiga dewa utama Hindu).

Relief pada dinding Prambanan menggambarkan kisah Ramayana, menjadikan kompleks ini sebagai pusat seni budaya yang hidup hingga kini. Pertunjukan Ramayana Ballet di pelataran candi menjadi daya tarik budaya yang sangat populer.

Daya Tarik: Pemandangan malam candi yang diterangi lampu, sangat cocok untuk wisata budaya malam hari.


3. Candi Penataran – Warisan Majapahit di Lereng Gunung Kelud

Candi Penataran terletak di Blitar, Jawa Timur, dan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur. Candi ini didirikan pada masa Kerajaan Kediri dan terus digunakan hingga era Majapahit. Arsitektur Penataran memadukan pengaruh lokal dengan gaya khas Hindu-Jawa.

Reliefnya menggambarkan kisah Ramayana dan Krishnayana, menunjukkan percampuran budaya dan agama yang harmonis. Candi ini juga memiliki fungsi religius, yaitu sebagai tempat pemujaan terhadap dewa Siwa.

Daya Tarik: Lokasinya yang asri dan dekat dengan wisata alam membuat pengalaman wisata lebih menyeluruh.


4. Candi Mendut dan Candi Pawon – Saudara Tua Borobudur

Candi Mendut dan Pawon terletak tidak jauh dari Borobudur dan diyakini merupakan bagian dari satu garis lurus spiritual dengan Borobudur. Candi Mendut, yang lebih tua dari Borobudur, dibangun pada abad ke-8 dan menyimpan tiga arca Budha besar di dalamnya.

Candi Pawon, walau lebih kecil, memiliki nilai simbolik sebagai tempat penyucian sebelum menuju Borobudur. Kombinasi ketiga candi ini mencerminkan konsep perjalanan spiritual yang holistik dalam agama Budha.

Daya Tarik: Mendut memiliki arca Buddha setinggi hampir 3 meter, sangat menakjubkan untuk dilihat dari dekat.


5. Candi Sukuh – Candi Erotis di Kaki Gunung Lawu

Candi Sukuh terletak di Karanganyar, Jawa Tengah, dan dikenal karena bentuknya yang menyerupai piramida serta relief yang menggambarkan simbol-simbol kesuburan dan kelahiran. Dibangun pada akhir masa Majapahit (abad ke-15), Candi Sukuh menunjukkan sinkretisme antara Hindu, Jawa kuno, dan unsur lokal.

Candi ini merupakan tempat pemujaan terhadap dewa Siwa sebagai dewa kesuburan dan pelindung kehidupan. Keberadaan ornamen-ornamen erotik di dinding candi menggambarkan pentingnya regenerasi dan kesucian dalam budaya spiritual Jawa kala itu.

Daya Tarik: Letaknya yang tinggi dengan pemandangan pegunungan yang sejuk dan tenang.

Baca juga: Wisata Sejarah Kerajaan Majapahit yang Masih Tersisa


6. Candi Gedong Songo – Surga Candi di Lereng Ungaran

Candi Gedong Songo terletak di lereng Gunung Ungaran, Semarang. Kompleks ini terdiri dari sembilan kelompok candi yang tersebar di ketinggian berbeda. Dibangun pada abad ke-9 oleh Wangsa Sanjaya, candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu.

Arsitektur Gedong Songo unik karena menyatu dengan alam dan menyuguhkan panorama pegunungan yang indah. Kabut yang kerap menyelimuti kawasan ini menambah nuansa magis dan spiritual.

Daya Tarik: Pengunjung bisa menjelajahi candi sambil hiking ringan di tengah pemandangan alam pegunungan.


7. Candi Plaosan – Simbol Toleransi Agama di Masa Lalu

Candi Plaosan terletak tak jauh dari Prambanan, dan merupakan contoh candi Budha yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Menariknya, Candi Plaosan dibangun oleh Rakai Pikatan (raja Hindu) untuk permaisurinya Pramodhawardhani yang beragama Budha.

Kompleks ini terdiri dari dua candi utama dan ratusan perwara (candi pendamping). Perpaduan unsur arsitektur Hindu dan Budha terlihat jelas dari bentuk serta detail reliefnya.

Daya Tarik: Tempat ini menjadi lambang toleransi dan cinta, sangat cocok bagi pasangan yang menyukai wisata sejarah dan romantis.


8. Candi Jago – Candi Siwa-Budha di Malang

Candi Jago terletak di Tumpang, Malang, dan dibangun pada abad ke-13 oleh Kerajaan Singhasari. Candi ini dikenal sebagai tempat pemakaman raja Wisnuwardhana, dan memadukan ajaran Budha dan Siwaisme dalam satu struktur.

Relief candi menggambarkan cerita Tantri Kamandaka, Kunjarakarna, dan lainnya yang menunjukkan nilai moral, spiritual, serta simbol transisi antara kehidupan dan kematian.

Daya Tarik: Relief penuh cerita rakyat yang mendidik dan menarik untuk dipelajari.


9. Candi Muaro Jambi – Pusat Pendidikan Budha di Sumatra

Berbeda dari Candi Peninggalan Hindu Budha di Jawa, kompleks Candi Muaro Jambi di Provinsi Jambi adalah salah satu situs arkeologi peninggalan Budha terbesar di Asia Tenggara. Dibangun antara abad ke-7 hingga ke-13 oleh Kerajaan Melayu dan Sriwijaya, situs ini dahulu digunakan sebagai pusat pendidikan agama Budha.

Candi-candi di Muaro Jambi sebagian besar terbuat dari batu bata merah dan tersebar di area yang luas di tepi Sungai Batanghari.

Daya Tarik: Suasana tenang dan luasnya kawasan sangat cocok untuk wisata edukasi sejarah.


10. Candi Dieng – Warisan Hindu Tertua di Pegunungan

Candi Peninggalan Hindu Budha di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, merupakan kompleks candi Hindu tertua di Indonesia, dibangun sekitar abad ke-7 hingga ke-8. Candi-candi ini dinamai berdasarkan tokoh pewayangan seperti Arjuna, Semar, dan Sembadra.

Lokasinya yang berada di dataran tinggi menambah kesan spiritual dan sakral. Candi Dieng diduga dibangun untuk pemujaan dewa Siwa oleh masyarakat Hindu kuno dari Kerajaan Kalingga atau Mataram Kuno.

Daya Tarik: Suasana pegunungan yang berkabut dan mistis cocok untuk refleksi spiritual.


Nilai Budaya dan Arkeologis

Semua candi-candi ini menyimpan nilai budaya, spiritual, dan arsitektur yang sangat tinggi. Reliefnya menyimpan kisah moral, petunjuk keagamaan, hingga catatan sejarah yang tak ternilai. Mengunjungi candi bukan hanya perjalanan wisata, tapi juga perjalanan pengetahuan dan pemahaman akan masa lalu bangsa.


Tips Singkat Berkunjung ke Candi:

  • Datang pagi hari agar terhindar dari terik matahari dan ramai pengunjung.
  • Gunakan pakaian sopan dan nyaman, karena candi adalah tempat sakral.
  • Bawa air minum dan perlengkapan pribadi karena beberapa candi berada di area pegunungan.
  • Gunakan pemandu lokal untuk pengalaman yang lebih bermakna.
  • Jaga kebersihan dan kesakralan tempat dengan tidak merusak atau memanjat struktur candi.

Penutup

candi peninggalan Hindu Buddha di Indonesia bukan sekadar batu yang disusun dengan indah. Mereka adalah saksi bisu kejayaan, toleransi, dan kebijaksanaan leluhur bangsa. Menjelajahi Candi Peninggalan Hindu Budha tersebut bukan hanya memperkaya wawasan sejarah, tapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya dan jati diri Indonesia. Di tahun 2025, saat masyarakat semakin sadar akan pentingnya sejarah dan budaya, candi-candi ini patut menjadi tujuan utama dalam agenda wisata nasional.

Jadi, kapan terakhir kali Anda menginjakkan kaki di halaman candi? Saatnya kembali menelusuri jejak peradaban Indonesia yang agung.

Baca juga: Perjalanan Sejarah Sate di Nusantara dari Masa ke Masa